Minggu, 28 Oktober 2012

Pemerintah Diminta Terapkan Kebijakan Kontrol Arus Impor



Jakarta, (Analisa). Pemerintah diharapkan menerapkan kebijakan yang mengontrol arus impor barang ke Indonesia untuk menjaga kestabilan neraca perdagangan Indonesia terutama, menghadapi tekanan arus impor.
"Untuk menjaga ekspor lebih kompetitif, posisi rupiah diharapkan stabil di level Rp8.800 sampai Rp8.900. Selain menjaga kinerja ekspor, posisi tersebut lebih aman mengontrol arus impor barang ke Indonesia," kata pengamat ekonomi Fauzi Ichsan di Jakarta, Selasa (9/10).

Krisis yang melanda Amerika Serikat dan Eropa, menurut Fauzi, tidak akan menghantam sektor riil nasional. Pasalnya, 70 persen perekonomian Indonesia sebagai negara besar ditopang oleh pasar domestik, yakni 60 persen oleh konsumsi masyarakat.

"Sektor riil kita tidak akan terlalu terpuruk karena tidak terlalu bergantung dengan perdagangan internasional. Selain itu, harga komoditas dan energi juga diprediksi masih akan tetap tinggi dan kurs harus terus dijaga agar stabil," paparnya.

Sedangkan pengamat ekonomi Mirza Adityaswara mengatakan, saat menghadapi tekanan luar biasa dari globalisasi, Indonesia juga berada di tengah sistem desentralisasi, yakni, kebijakan pemerintah pusat berhadapan dengan pemerintah daerah.

"Kalau mau melawan tekanan internasional, pemerintah harus pandai-pandai bernegosiasi soal impor agar produk impor tidak terlalu banyak masuk, karena ini menyangkut negosiasi internasional yang melibatkan pelobi dan pengacara internasional termasuk IMF, WTO, dan Bank Dunia," ujarnya.

"Tahun depan, kalau inflasi bisa di bawah 5 persen, BI rate mungkin bisa diturunkan. BI harus menjaga likuiditas valas dan eksportir unggulan juga harus membantu dengan melepas dolarnya ke pasar," tandasnya. (Ant)


Analisa :

Kegiatan arus impor di Indonesia memang perlu diberikan batasan, agar tidak semua produk luar negeri masuk ke Indonesia dengan gamapangnya dan menyaingi produk dalam negeri sendiri. Sedangkan seharusnya sebisa mungkin ekspor dapat kita lakukan untuk memperbaiki neraca pembayaran.
Pengamat Ekonomi Mirza menambahkan, jika kurs rupiah terhadap dolar AS stabil, yakni di kisaran Rp8.900-Rp9.000 per dolar AS, akan menguntungkan ekspor karena lebih kompetitif. Selain itu, impor juga akan lebih terkontrol masuknya.
Dari statement pengamat ekonomi tersebut sudah jelas, untuk mengontrol arus impor diperlukan nilai kurs yang stabil anatara Rp. 8.900- Rp. 9.000, sedangkan saat ini nilai rupiah sangat rendah yaitu 1 dollar berkisar kurang lebih sudah mencapai Rp. 9.500.

Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar